Tampilkan postingan dengan label FINANCE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FINANCE. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Sebenarnya Apa Itu Yang Dimaksud Dengan Latte Factor?

Berita Dunia - Apakah anda familiar dengan istilah Latte Factor? Apa itu latte factor? Kita coba mengingat sebentar ya, apakah Anda pernah merasa bila penghasilan anda selama ini selalu habis setiap bulan seperti numpang lewat saja padahal anda tidak pernah membeli barang-barang yang mahal?

Bahkan Anda bingung ke mana uang tersebut habis terpakai. So kali ini kita mengupas apa itu latte factor dan hubungannya latte factor dengan keuangan?

Jadi apa yang dimaksud dengan Latte Factor? Untuk mudahnya kita pakai sebuah cerita di mana Lia adalah seorang karyawati di sebuah perusahaan swasta yang berkantor di kota besar. Ia sangat gemar minum kopi di kedai kopi yang satu gedung dengan kantornya.

Kerap kali Ia selalu minum kopi di kedai tersebut yang harga satu cangkir kopinya bisa mencapai Rp 30.000. hal ini tentu berlangsung terus menerus. Sesuatu hal yang dilakukan terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan yang tidak kita sadari dan hal ini terjadi pada Lia.

Setiap bulannya, tanpa disadari Lia dapat menghabiskan antara Rp 600.000 sampai Rp 1 juta, hanya untuk membeli kopi untuk menemani rutinitas bekerja. Apakah terasa berat? Bagi Lia yang menjalaninnya tentu ini tidak terasa, justru gaya hidup seperti ini memberi kesenangan tersendiri bagi Lia.

Oleh karena itu, kebiasaan seperti ini sulit dilepaskan dan ditinggalkan, mungkin saja kebiasaan ini sebenarnya bukan sebuah kebutuhan yang sedari awal harus dipenuhi.

Istilah Latte Factor dipopulerkan oleh David Bach, penulis buku finansial ternama. Latte factor adalah pengeluaran untuk hal yang sebenarnya tidak dibutuhkan, yang terlihat kecil dan tanpa sadar dilakukan terus menerus, hingga akhirnya membuat pengeluaran membengkak dan menjadi besar.

Beberapa latte factor yang biasanya ada di masyarakat adalah pengeluaran untuk minum kopi, pengeluaran untuk makanan ringan, rokok, transportasi online, air minum, biaya transaksi perbankan dan pengeluaran-pengeluaran kecil lainnya yang tanpa kita sadari dan sudah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kita bahkan tidak menyadari berapa besar biaya yang kita keluarkan untuk pengeluaran tersebut. Tetapi jika kita memikirkannya lebih dalam dan mengubah kebiasaan tersebut, mungkin kita dapat mengubah masa depan kita. Nah kali ini kita akan mengupas hal-hal apa saja yang menjadi latte factor kebanyakan orang.

Kita masih membahas hal yang sama seperti di atas yaitu mengenai kopi. Tenang kita di sini bukan untuk menjudge, namun mencoba sharing bersama, Apakah Anda salah satu penggemar kopi? Jika Anda penggemar kopi, di manakah Anda biasa minum kopi?

Jika Anda terbiasa untuk membeli kopi dengan brand terkenal dan harga berkisar Rp 30.000 sampai Rp 50.000 bahkan lebih, apakah anda membeli tersebut karena menyukai dan menikmatinya kopinya atau karena gengsi?

Banyak di antara kita termasuk Lia yang sudah terbiasa meminum kopi tidak hanya sekali dalam sehari, bisa jadi setiap sehabis makan atau setiap meeting.

Bisa jadi kopi tersebut tidak dapat dinikmati pada saat meeting, atau pada saat jam-jam sibuk di kantor. Dalam sebagian besar keadaan, membeli kopi untuk diminum hanya karena kebiasaan membeli kopi tersebut.

Jika memang demikian, bayangkan jika Anda mengubah kebiasaan membeli kopi tersebut, dengan menyeduh kopi sendiri di kantor, selisih harga sebesar Rp 10.000-40.000 setiap gelasnya dapat membuat perbedaan yang signifikan dalam setiap bulannya.

Anda tetap dapat menikmati kopi kesukaan anda sewaktu-waktu pada saat senggang, bukan karena pola kebiasaan Anda tersebut.

Tags : Latte factor, Berita Finance, David Bach
Share:

Minggu, 07 Juli 2019

Penyebab Generasi Milenial Suka Pindah Kerja Dengan Cepat

Penyebab Generasi Milenial Suka Pindah Kerja Dengan Cepat
Berita Dunia - Generasi milenial sering dianggap sebagai generasi kutu loncat karena suka berpindah-pindah kerja dengan cepat. Berdasarkan survei CareerBuilder yang dikutip dari Forbes pada 2017, sekitar 45% pekerja baru lulus dari perguruan tinggi menyatakan hanya akan bertahan di perusahaan sekitar kurang dari dua tahun.

Jadi apa penyebabnya generasi milenial ini suka untuk berpindah kerja dengan cepat? Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa generasi milenial sering pindah kerja :

1. Menginginkan Peran Baru
Jika seorang karyawan yang pindah kerja karena mendambakan peran baru, artinya ia merasa terjebak di pekerjaan sebelumnya. Ia sudah jenuh karena melakukan tugas yang sama setiap hari.
Selain itu, ia juga sulit naik jabatan karena belum ada posisi yang tepat yang sesuai dengan keahliannya. Sebenarnya, kepindahan karyawan berkualitas bisa dicegah jika atasannya jeli melihat kegalauan stafnya dan memberi tantangan baru.

Apabila keresahan generasi milenial di tempat kerja dibiarkan dalam waktu lama, maka, cara cepat untuk mendapatkan peran baru adalah mencari kerja di luar perusahaan. Jika ia bekerja di perusahaan yang lebih kecil, bukan tidak mungkin mendapat jabatan dan peran yang lebih besar.
Sementara, bila pindah ke perusahaan dengan level setara, maka ia akan memilih tempat kerja yang menjanjikan peran berbeda dan bahkan jalur karir baru.

2. Budaya Kerja yang Sesuai
Generasi milenial mempertimbangkan budaya kerja perusahaan sebelum pindah kerja. Mereka berharap bisa bekerja dengan nyaman di tengah suasana yang postif dan kolega yang saling mendukung. Calon pekerja akan mencari tahu reputasi perusahaan dari berbagai sumber, mulai dari prestise perusahaan hingga ulasan karyawan yang disampaikan di berbagai platform karir.

Hari ini, image perusahaan bukan saja dibuat oleh manajemen sendiri. Namun, suasana kerja “di balik layar” bisa saja tersebar melalui berbagai platform media sosial.
Jadi, apabila perusahaan ingin menarik talenta terbaik dari kalangan milenial maka harus berupaya menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Dengan begitu, karyawan sudah merasakan kepuasan selama bekerja di perusahaan.
Penyebab Generasi Milenial Suka Pindah Kerja Dengan Cepat

3. Kesempatan Tumbuh dan Berkembang
Menurut survei The Muse, sekitar 58% dari basis pengguna platform yang berasal dari generasi milenial mengatakan rencana berganti pekerjaan tahun 2018. Salah satu alasan yang mendasari rencana pindah kerja adalah keinginan untuk mendapat peluang tumbuh dan berkembang. Artinya, generasi milenial selalu haus akan ilmu baru.

Untuk itu, perusahaan mesti menyediakan pelatihan untuk pengembangan individu, sistem mentoring yang baik, hingga membuka kesempatan cuti sekolah. Dengan keahlian dan keterampilan yang lebih baik, generasi milenial bisa berharap menaiki tangga karir lebih cepat. Pada akhirnya, generasi milenial dapat berkontribusi lebih besar pada perusahaan.

4. Work Life Balance
Masih dari survei The Muse, milenial menyebut alasan pindah kerja karena mencari keseimbangan kehidupan dan pekerjaan. Generasi muda ini menyadari pentingnya meluangkan waktu berkualitas dengan keluarga dan kerabat dibanding hanya berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Jadi, milenial tidak akan betah bekerja pada perusahaan yang menuntut karyawan untuk sering lembur hingga kerja di luar jam kerja.

Tapi, hal ini bukan berarti perusahaan mesti mengurangi pekerjaan yang harus ditanggung setiap individu. Milenial tetap mau bekerja keras dengan pengaturan waktu yang lebih fleksibel, seperti kebijakan work from home. Selain itu, pekerja juga berharap kesempatan cuti yang tidak dipersulit.

5. Kompensasi
Kebanyakan orang pindah kerja dengan alasan mengharapkan penghasilan lebih baik, tak terkecuali generasi milenial. Memang, hal ini bukan menjadi alasan utama, tetapi merupakan salah satu pertimbangan yang menguatkan keputusan pindah kerja.

Tawaran gaji besar di perusahaan lain memang menarik. Di luar pendapatan utama itu, generasi milenial juga melihat tunjangan di luar gaji yang menguntungkan, mulai dari tunjangan kesehatan, transportasi, hingga makanan gratis di kantor.

Dunia kerja hari ini tidak hanya dikendalikan oleh perusahaan. Tenaga kerja juga punya daya tawar untuk menentukan tempat kerja terbaik. Dengan memahami keinginan dan kebutuhan generasi milenial, maka perusahaan akan mendapat talenta terbaik. Sementara karyawan yang bekerja di perusahaan idaman akan berusaha lebih produktif dan memberi kontribusi besar bagi perusahaan.

Share:

Kamis, 04 Juli 2019

Ekonomi AS Mulai Terancam Akibat Defisit Perdagangan Yang Melonjak

Berita Dunia - Defisit perdagangan AS melonjak pada Mei dan ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan China membuat aktivitas di sektor jasa ke level dalam 2 tahun di Juni. Hal ini menjadi tanda-tanda lebih jauh bahwa pertumbuhan ekonomi melambat tajam pada kuartal II-2019.
Ekonomi AS Mulai Terancam Akibat Defisit Perdagangan Yang Melonjak

Melansir laman antaranews, Jakarta, Kamis (4/7/2019), prospek suram ekonomi juga digarisbawahi oleh data lain pada Rabu 3 Juli 2019 menunjukkan pengusaha swasta menambahkan pekerjaan jauh lebih sedikit dari yang diperkirakan pada bulan lalu.

Pesanan baru untuk barang-barang manufaktur turun pada Mei untuk bulan kedua berturut-turut. Laporan tersebut mengikuti data investasi perumahan dan bisnis yang lemah baru-baru ini, serta belanja konsumen yang moderat. Kepercayaan bisnis dan konsumen telah menurun.

Perlambatan dalam kegiatan, karena stimulus besar-besaran tahun lalu dari pemotongan pajak dan pengeluaran pemerintah yang lebih banyak, memudar dapat mendorong Federal Reserve untuk memotong suku bunganya bulan ini.

Bank sentral AS bulan lalu mengisyaratkan pihaknya dapat melonggarkan kebijakan moneter secepatnya pada pertemuan 30-31 Juli, mengutip meningkatnya risiko terhadap ekonomi dari perang perdagangan antara Washington dan Beijing, dan inflasi yang rendah. Dana Moneter Internasional (IMF) telah menurunkan estimasi pertumbuhan global karena berkurangnya arus perdagangan sebagai akibat dari pertarungan perdagangan.

"Orang bertanya-tanya berapa lama Washington akan terus mengklaim bahwa mereka membantu ekonomi AS," kata Chris Rupkey, kepala ekonom di MUFG di New York. "Salah satu faktor di balik kejatuhan ekonomi dalam Depresi Hebat adalah proteksionisme dan perang dagang, dan itu akan menjadi keajaiban jika ekonomi dunia dapat menghindari penurunan lain kali ini."

Defisit perdagangan naik 8,4 persen menjadi USD55,5 miliar karena lonjakan impor membayangi peningkatan ekspor secara luas, kata Departemen Perdagangan. Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan kesenjangan perdagangan melebar menjadi USD54,0 miliar pada Mei.

Defisit perdagangan barang dengan China, fokus dari agenda "“America First" Presiden Donald Trump, meningkat 12,2 persen menjadi USD30,2 miliar. Trump memberlakukan tarif impor tambahan untuk barang-barang China, setelah kegagalan dalam negosiasi, mendorong Beijing untuk membalas. Ekonom mengatakan ekspektasi bea tambahan kemungkinan mendorong impor dari China, yang melonjak 12,8 persen pada Mei.

Trump dan Presiden China Xi Jinping pekan lalu menyetujui gencatan senjata perdagangan dan kembali ke perundingan. Penasihat perdagangan Gedung Putih Peter Navarro mengatakan pada Selasa (2/7/2019) perundingan sedang menuju ke arah yang benar, tetapi akan membutuhkan waktu untuk mendapatkan kesepakatan yang tepat.

Ketegangan perdagangan AS-China telah menyebabkan ayunan liar dalam defisit perdagangan, dengan eksportir dan importir berusaha untuk tetap di depan dari pertarungan tarif antara kedua raksasa ekonomi. Trump pada Rabu (3/7/2019) menuduh China dan Eropa "memainkan permainan manipulasi mata uang besar dan memompa uang ke dalam sistem mereka untuk bersaing dengan AS."

"Kami masih berpikir itu sedikit lebih mungkin daripada tidak bahwa sengketa perdagangan dengan China pada akhirnya akan meningkat lebih lanjut," kata Andrew Hunter, ekonom senior AS di Capital Economics di London. "Perdagangan kemungkinan akan tetap menjadi hambatan moderat pada paruh kedua tahun ini, yang kami perkirakan akan menambah perlambatan tajam dalam pertumbuhan permintaan domestik."

Dolar sedikit berubah terhadap sekeranjang mata uang dalam perdagangan tipis di AS menjelang hari libur Hari Kemerdekaan Kamis. Saham-saham di Wall Street naik, dengan indeks S&P 500 mencapai rekor tertinggi karena ekspektasi penurunan suku bunga. Harga surat utang pemerintah AS juga lebih tinggi.

Pada Mei, impor barang meningkat 4,0 persen menjadi USD217,0 miliar. Selain menarik lebih banyak impor dari China, Amerika Serikat mengimpor jumlah rekor dari Uni Eropa, Meksiko dan Kanada pada Mei. Peningkatan impor berbasis luas, dengan kendaraan bermotor dan suku cadang melonjak ke tertinggi sepanjang masa.

Ekonomi AS Mulai Terancam Akibat Defisit Perdagangan Yang Melonjak

Impor minyak bumi naik dan minyak mentah lebih mahal, membantu menaikkan tagihan impor pada Mei. Ekspor barang meningkat 2,8 persen menjadi USD140,8 miliar. Ekspor meningkat di semua sektor, termasuk pesawat penumpang meskipun Boeing pada Maret menangguhkan pengiriman jetliner MAX 737 yang paling cepat terjual. Pesawat itu dilarang terbang tanpa batas waktu setelah dua kecelakaan mematikan dalam lima bulan.

Ketika disesuaikan dengan inflasi, defisit perdagangan barang meningkat USD4,8 miliar menjadi USD87,0 miliar pada Mei, menunjukkan perdagangan dapat menjadi hambatan pada produk domestik bruto kuartal kedua.

Perdagangan berkontribusi 0,94 poin persentase ke laju pertumbuhan ekonomi tahunan 3,1 persen pada kuartal pertama. The Fed Atlanta memperkirakan produk domestik bruto naik pada tingkat 1,3 persen untuk kuartal April-Juni..
Kegelisahan atas perdagangan meluas dari manufaktur ke industri jasa. Dalam laporan ketiga pada Rabu (3/7/2019), Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks aktivitas non-manufaktur turun menjadi 55,1 pada Juni, angka terendah sejak Juli 2017, dari 56,9 pada Mei.

Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi di sektor ini, yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi AS. ISM mengatakan "ada tingkat ketidakpastian karena perdagangan dan tarif."

Penurunan aktivitas industri jasa mencerminkan penurunan ukuran pesanan baru, yang turun ke level terendah sejak Desember 2017. Ukuran lapangan kerja jasa juga turun.

"Tren perlambatan nyata di seluruh kategori menimbulkan kekhawatiran bahwa tren perlambatan yang paling jelas dalam manufaktur juga menjadi lebih jelas dalam ekonomi yang lebih luas," kata Andrew Hollenhorst, seorang ekonom di Citigroup di New York. "Ini akan meninggalkan The Fed tepat di tebing menyediakan beberapa 'jaminan' dengan memangkas suku bunga pada pertemuan Juli."

Perlambatan dalam pekerjaan juga dicerminkan oleh Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP yang menunjukkan penggajian (pay roll) swasta meningkat 102.000 pekerjaan pada Juni dari 41.000 pada Mei, tetapi di bawah ekspektasi pasar untuk kenaikan 140.000. Itu menunjukkan rebound moderat dalam komponen penggajian swasta dari laporan ketenagakerjaan yang diikuti oleh pemerintah.

Laporan ketenagakerjaan Juni akan dirilis pada Jumat (5/7/2019). Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan pekerjaan non-pertanian akan meningkat 160.000 pekerjaan setelah hanya meningkat 75.000 pada Mei. Tingkat pengangguran diperkirakan akan bertahan di dekat level terendah 50 tahun di 3,6 persen pada Juni.

Meski demikian, PHK tetap rendah. Laporan kelima dari Departemen Tenaga Kerja menunjukkan klaim awal untuk tunjangan pengangguran turun 8.000 menjadi 221.000 yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 29 Juni.

Share:

Rabu, 26 Juni 2019

Nilai Tukar Dollar AS Kembali Kuat di Rp 14.159

Nilai Tukar Dollar AS Kembali Kuat di Rp 14.159
BERITA DUNIA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat pagi ini. Mata uang Paman Sam tersebut menekan rupiah ke level Rp 14.159.

Mengutip data perdagangan Reuters, Rabu (26/6/2019), posisi nilai tukar dolar AS terhadap rupiah pagi ini lebih tinggi dibandingkan Selasa (25/6) kemarin yang ada di level Rp 14.093. Hingga pagi ini dolar AS tercatat bergerak di level Rp 14.139 hingga Rp 14.170.

Jika ditarik dalam lima hari terakhir, nilai tukar dolar AS pagi ini tercatat cukup tinggi dibandingkan posisi sebelumnya. Tercatat dolar AS bergerak dari level Rp 14.068 hingga Rp 14.170 dalam lima hari terakhir.

Dari data RTI, dolar AS terpantau menguat terhadap sebagian besar mata uang negara utama dunia. Mata uang Paman Sam tercatat paling unggul terhadap baht Thailand, rupiah dan peso Filipina, namun kalah terhadap dolar New Zealand, dolar Australia dan dolar Hong Kong.

Sementara rupiah menorehkan nasib sebaliknya. Rupiah tertekan paling dalam terhadap dolar New Zealand, dolar Australia dan dolar AS.
Share:

RECENT POST

Copyright © BERITA DUNIA - Blog Penyaji Info dan Berita Terbaru | Powered by Blogger